Wednesday, January 18, 2012

Renungan Malam: Dikira TKW? No problem!

Di video mengenai Arab Saudi dan Islam yang aku post di bawah, ada scene di mana sang tuan rumah orang Arab Saudi kaya raya yang menikah dengan orang Jepang mempunyai pembantu rumah tangga (maid) dari Indonesia. Aku jadi inget soal TKW (Tenaga Kerja Wanita) Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di luar negeri seperti Timur Tengah, Hong Kong, dsb.

Suatu kali, entah tahun berapa aku nggak ingat, saat pulang ke Indonesia pernah dikira TKW. Saat itu aku naik Cathay Pacific menuju Jakarta yang mengharuskan aku transit di Hong Kong 1 jam. Saat di Hong Kong itulah ada seorang ibu TKW menghampiriku di ruang tunggu dan bertanya dengan ramah: kerja di mana, sudah berapa tahun, dsb. Aku jawab aku masih belajar, di Jepang. ^_^

Ibu itu pun lalu bercerita tentang pengalamannya menjadi TKW di Hong Kong dan kerja kerasnya untuk membiayai anak-anak di tanah air. Ibu itu juga sudah beberapa tahun tidak pulang padahal anak bungsunya masih kecil, dsb. Salut jadinya akan kerja kerasnya buat keluarga dan buat bangsa pada umumnya, karena seperti kita tahu para TKW menyumbang devisa buat negara melalui uang kiriman mereka ke tanah air.

Dulu, kalau dipikir-pikir, rasanya kesal dikira TKW. Sampai pernah membahas dengan beberapa teman sesama mahasiswi asing bagaimana caranya mengubah penampilan lebih modis dengan kacamata dan kalung supaya tidak dikira TKW. Pernah juga baca blog saudara sepupu yang kesal karena dikira TKW, padahal dia berpendidikan tinggi lulusan luar negeri. Intinya, mahasiswi Indonesia tidak suka dikira TKW saat berada di bandara.

Sekarang, kalau dipikir lagi, aku sudah nggak peduli kalau dikira TKW di bandara suatu saat kalau pulang nanti, nggak kesel lagi, so what gitu loh? Malah kalau dikira TKW, minta doa aja supaya bisa jadi TKW alias bisa bekerja di luar negeri, hahaha, iseng aja. Cari kerja di luar negeri susah sih, hihihihi curcol dikit. Lagian kenapa juga ya harus kesal, memang diri ini sudah lebih baik dari para TKW yang berjuang mencari nafkah untuk keluarganya? Just because I am an overseas student, does not mean I am better than them. Mungkin secara level pendidikan, aku lebih beruntung karena dapat mengenyam pendidikan tinggi, tapi bukan berarti aku boleh meremehkan mereka, kan?

Bisa jadi, mereka hanya kurang beruntung tidak bisa sekolah sampai pendidikan tinggi dan terpaksa menjadi pekerja kasar di luar negeri. Belum lagi, di luar negeri kadang kehidupan tidak nyaman dengan permasalahan ringan mulai perbedaan bahasa sampai yang berat seperti majikan kasar. Pemerintah, khususnya Kementerian Tenaga Kerja harus mengelola tenaga kerja Indonesia di luar negeri dengan lebih baik, jangan sampai ada lagi cerita buruk dari luar negeri soal TKW disiksa majikannya atau dihukum mati karena membunuh majikannya. Naudzubillah..

TKW harus dikelola dengan baik. Mereka harus mendapat training sebelum keberangkatan, juga harus mempunyai ketegasan dan nilai tawar kepada majikan yang mempekerjakannya. Jangan sampai, majikan semena-mena terhadap mereka, baik soal jam kerja tanpa istirahat dan soal gaji. Impian aku, suatu saat Indonesia bisa mengirim tenaga kerja terdidik dan terlatih ke luar negeri, bukan hanya pekerja kasar atau pembantu rumah tangga. Hmm..masih banyak PR soal pembenahan pendidikan bangsa.

0 comments: